• Danrem 151/Binaiya Pimpin Upacara Awal Bulan Mei

  • Korem 151/Binaiya Laksanakan Lari Jalan

KEMANTAPAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA SEBAGAI DASAR KUAT BAGI KETAHANAN BANGSA

Posted by: | Posted on: Januari 30, 2017

Bapak-bapak para pendiri Republik Indonesia melukiskan hakekat persatuan kesatuan bangsa yang sekaligus sebagai jati diri Indonesia diwujudkan dalam sebuah sesanti lambang Negara “ Bhineka Tunggal Ika “. Kalimat tersebut dipetik dari sebuah naskah kuno dalam lontar “ Sutasoma “ karya Empu Tantular. Bunyi kalimat aslinya sesuai lontar tadi ialah “ Bhineka Tunggala Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa “. Terjemahannya kedalam bahasa Indonesia berarti “ Berbeda-beda tetapi satu, tiada kebenaran yang bersifat mendua, atau ganda atau ambivalen “. Transformasi hakekat makna tersebut kedalam masalah persatuan kesatuan Indonesia, memiliki kandungan nilai dinamis dan subtantif. Secara dinamis maka persatuan dan kesatuan Indonesia adalah suatu proses sejarah dan kehidupan masyarakat yang heterogen terdiri dari beraneka macam suku, adat-istiadat, budaya dan mendiami beribu pulau dan kepulauan dalam peta geografis yang letaknya strategis. Proses tadi memakan waktu ratusan, bahkan ribuan tahun sehingga menuju kepada satu titik homogenitas ketunggalan secara politik nasional. Dalam pengertian substantive, ialah bahwa makna dan hakekat lambang Bhineka Tunggal Ika merupakan kristalisasi kultur kenusantaraan yang selanjutnya secara resultantif lahir satu bangsa dan negara baru, yaitu bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui suatu pernyataan politik dengan istilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal, 17 Agustus 1945.
Persatuan dan Kesatuan merupakan tuntutan yang fundamental dalam suatu kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu , berbagai upaya dalam membina serta memantapkan persatuan dan kesatuan merupakan suatu hal yang mutlak dan bernilai strategis bagi kelangsungan hidup bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, 362 suku bangsa serta berbagai adat istiadat dan agama. Dengan latar belakang kebhinekaan tersebut, disatu sisi merupakan modal yang sangat berharga bagi pelaksanaan pembangunan, disisi lain juga mengandung potensi kerawanan yang harus senantiasa dicermati. Secara moral dan politik, persatuan dan kesatuan nasional bangsa Indonesia telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Momentum ini merupakan awal kebangkitan bangsa Indonesia untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Tekad bangsa Indonesia tersebut telah melahirkan konsep wawasan nasional yang disebut dengan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang bangsa Indonesia yang menjadikan seluruh wilayah nusantara sebagai satu kesatuan yang utuh baik secara politik, ekonomi, sosial, budaya maupun hankam. Didalam konsep wawasan nusantara tersebut, termuat kultur politik bangsa, yang terdiri dari nilai-nilai intrinsik Pancasila dan UUD 1945, keyakinan empirik seperti yang tertuang dalam empat pokok pikiran pada pembukaan UUD 1945, lambang ekspresif bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan bahasa nasional Indonesia serta sesanti Bhineka Tunggal Ika. Dinamika persatuan dan kesatuan bangsa seperti uraian diatas, telah memberikan pelajaran kepada Bangsa Indonesia tentang arti penting persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk itu, kita perlu senantiasa berupaya memelihara dan memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam berbagai dimensi.
Telah menjadi catatan sejarah sekaligus keyakinan bagi Bangsa Indonesia bahwa dalam menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang mengancam kedaulatan dan eksistensi bangsa dan negara, maka salah satu senjata utama adalah persatuan dan kesatuan. Dari sejarah perjuangan merebut dan mengisi kemerdekaan dapat kita peroleh gambaran dan pelajaran tentang urgensi persatuan dan kesatuan dalam mewarnai dinamika kehidupan Bangsa Indonesia. Kajian historis menunjukkan bahwa, kondisi riil persatuan dan kesatuan nasional merupakan elemen dasar penunjang keberhasilan Bangsa Indonesia dalam perjuangan merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Hal ini dapat kita lihat dalam tahapan perjalanan bangsa Indonesia yang dimulai pada saat merebut kemerdekaan, masa pada saat mempertahankan kemerdekaan sampai pada saat ini. TNI sebagai alat pertahanan Negara Indonesia senantiasa berupaya memelihara dan memantapkan stabilitas disegala bidang kehidupan bangsa yang sehat dan dinamis. Satu hal yang menonjol dari sikap TNI, adalah naluri dan pengalamannya yang sangat peduli, dan antisipatif terhadap kerawanan-kerawanan yang dapat membahayakan bangsa dan negara. Memelihara dan memantapken persatuan dan kesatuan bangsa yang selama ini telah dilakukan bukannya tanpa hasil, namun TNI tidak menghendaki adanya resiko sekecil apapun terhadap kurang terpelihara dan mantapnya persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa TNI dituntut untuk dapat memantapkan serta membawa diri dalam konfigurasi kemajemukan masyarakat yang penjelmaan dari tugas ini adalah TNI berfungsi sebagai kekuatan pemersatu, penengah dan perantara (mediating and moderating force) dari segenap komponen bangsa. Menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh arus globalisasi terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa yang dapat merubah berbagai norma dan nilai kehidupan sosial, maka sangat diperlukan wawasan kebangsaan, agar jati diri dan lingkungannya yang serba berubah menjamin terwujudnya jati diri dan identitas kebangsaannya sebagai satu kesatuan yang utuh dibidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.
. (Penrem 151/Binaiya)





Comments are Closed

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.